Skip to content →

Seneng Ndadak Itu Gak Mesti Buntung

Anda seneng ndadak? Ndadak itu bahasa Indonesia yang baik dan benarnya itu apa ya?

Pokoknya gini, umpama anda memiliki jadwal hari Selasa tanggal 20 Mei, lha anda itu sebenarnya udah tau sejak tanggal 20 April, tetapi anda baru mengerjakan tugas yang memiliki deadline tanggal 20 Mei itu pada H-7 atau bahkan H-2 dari tanggal 20 Mei.

Resiko sering mengerjakan sesuatu ndadak itu fatal sebenarnya, selain bisa mengerjakannya kurang maksimal, kita juga bisa lupa yang harus dikerjakan secara lengkap. Selain itu, kita juga bisa jantungan laughing

Gimana gak jantungan? ngerjakan tergesa-gesa sambil jedak jeduk didada sambil pikiran kremungsung, iso bar gak iso bar gak…

Hahaha,… rolling on the floor

Hayo, ngaku yang seneng kayak gitu. Aku pun juga sering nglakuin kayak gitu sebenarnya, hahahaha…

Beberapa waktu memang buntungnya, merasa kurang maksimal dan mesti tergesa-gesa.

Lha yang mau aku ceritakan kali ini, ndadak ku yang menjadi keuntungan. Ya bisa dibilang tidak 100% buntung. no talking

Gini, gini ceritanya.

Akhir-akhir ini kan banyak pendaftaran masuk ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Ndak tau darimana, sejak kelas 11, salah satu perguruan tinggi yang aku pengin masuki yaitu di ISI Yogyakarta (Institute Seni Indonesia Yogyakarta) dengan prodi televisi.

Selain pengin kesitu, ketika kelas 12 ada keinginan masuk ke Universitas Negeri Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SUKA) dengan prodi KPI atau Komunikasi Penyiaran Islam.

Oke balik ke peristiwa ndadak.

Awalnya kan ada pendaftaran di ISI Yogya pada tanggal 28 April 2014 lalu. Sebenarnya aku udah mantau sejak satu bulan sebelumnya, bahkan setahunan terakhir bukak website ISI Yogya dan website PTN tujuan lainnya.

Setelah hari H pendaftaran pertama. Aku santai-santai aja, pikirku nanti aja lah, soalnya aku juga udah daftar di UIN SUKA, dan selain itu aku berpikir belajar lainnya dulu, belajar bikin portofolio video baru dulu, belajar foto, ngolah foto.

Gak terasa sudah hampir mendekati H-7 pendaftaran terakhir gelombang pertama di ISI Yogya. Karena terlalu mepet, dan belum cari persyaratan ini itu kemana-mana, aku mencoba lapor ke orang tua agar disetujui gak ikut pendaftaran di ISI Yogya, nunggu pengumuman di UIN SUKA dulu.

Eh ternyata, aku dimarahi, bla, bla, bla.  Panjang pokonya.

Dengan menghela nafas lebar dikali panjang dan ditambah volume suara, aku segera bergegas membuka kembali persyaratan dan segera mencari data-data yang saya perlukan untuk daftar.

Daftar secara online sudah aku lakukan tinggal verifikasi data yang membutuhkan data akurat dari dokter maupun laboratorium.

Mencari data kesana kemari, mencari persyaratan kesana kemari, sampai hari H-3 pendaftaran terakhir.

Eh, setelah ku taruh map dan ku masukkan amplop untuk dikirim via POS, ternyata ada satu yang kurang.

LIGALISIR RAPOT, glodak. besoknya aku langsung kesekolahan dengan prediksiku kalau pagi ligalisir sudah kudapat, maka kurang dari jam 13.00 persyaratan verifikasi data udah bisa ku kirim dan Jumat sebelum jam 17.00 udah sampai sana.

Ternyata Tuhan berkata lain, #jiah yawn

Bapak kepala sekolah tidak ada ditempat pada pagi hari, terpaksa aku harus menunggu sampai sore hari dan harap-harap cemas, bisa kirim berkas sore hari.

Alhamdulillah sorenya ligalisir rapot udah kudapatkan dan segera kujadikan satu dengan persyaratan lainnya. Aku segera lari ke Jombang untuk mengejar paket pengiriman dengan menggunakan pesawat. Karena di Nganjuk tak bisa pakai pesawat.

Eh, ternyata, setelah muter-muter dan tentunya sudah masuk ke kantornya jasa pengiriman, mereka juga tidak bisa memastikan datanganya pada hari Jumat meskipun pakai pesawat, soalnya datangku terlalu sore, semua kantor yang kumasuki menjawab seperti itu.

Yah,, aku kembali pulang dengan tangan hampa tanpa membawa nomor resi di tangan.

Sambil jalan pulang, aku berfikir, ini aku harus ke Jogja malam ini juga, harus sendiri.

Sampai dirumah, aku diam aja ke ortu, mengambil momen yang tepat untuk bicara dengan beliau.

Aku mengutarakan hal yang mengganjalku tadi dan,,, boleh pergi ke Yogya, tapi dengan persyaratan dengan ibuku tercinta.

Awalnya sih aku menolak, soalnya aku merasa merepotkan beliau, eh ternyata beliau terus memaksakan diri. Ya akhirnya, berangkat bersama ibuku tercinta ke Yogya malam itu juga.

Tepatnya ba’da Isyak malam Jum’at tanggal 22 Mei kemarin lusa itu, aku dan ibuk berangkat dari Kertosono naik bis Mira, sampai di terminal Giwayangan Yogyakarta sekitar pukul 01:00.

Sambil menunggu pagi hari, aku dan ibuk duduk-duduk dan sambil tiduran di daerah terminal Giwangan.

Pukul 06.00 aku mengajak ibukku untuk segera beranjak ke kampus ISI Yogya supaya bisa jalan-jalan juga disana.

Naik ojek bayar 40rb untuk dua orang, langsung menuju kampus ISI Yogya.

ini salah satu foto yang kuambil di dekat gedung direktorat ISI Yogya

Huh, inilah yang kuanggap keuntungannya orang ndadak, bisa jalan-jalan juga rolling on the floor

Selain ke kampus ISI Yogya, aku dan ibuk juga mampir ke kampus UIN SUKA buat lihat-lihat disana juga. Kesana naik bis Trans Yogya sambil tanya ke orang-orang biar gak kesasar big grin

Halte Trans Yogya UIN SUKA
Halte yang ada di depan pas kampus UIN SUKA

Dari dua kampus yang ku kunjungi, aku merasa srek yang dikampus UIN sih, disana hawanya, dan mahasiswanya adem-adem gitu, hehehe… Itu pendapatku aja sih.  DI UIN aku juga berkesempatan Jum’atan di masjidnya. Alhamdulillah sudah bisa merasakan masjidnya, semoga bisa merasakan pendidikannya juga. Amin… happy

Ok, guys.

Dari kisah diatas, jangan ditiru jeleknya ya. Jangan suka mengerjakan sesuatu itu ndadak sebenarnya. Kisah ini memang mengisahkan untungnya orang suka ndadak, soalnya juga bisa jalan-jalan ke kampus impian, tapi tetep ada jeleknya.

Jeleknya dikisah ini, coba kalau aku bisa kirim pakek POS, mungkin ongkos cuman 40-50 ribu perak. Lha klo pergi ke Yogya, transpot pulang pergi saja untuk 2 orang sekitar 150rb belum makan, dan transpot di kota.

Hehehe,,, big grin

Published in #ndobos

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *