Skip to content →

Marhaban Ya Ramadhan 1435 H

Selamat datang bulan Ramadhan.

Bulan penuh berkah, bulan yang suci, bulan yang selalu dinanti – nanti oleh seluruh umat Islam diseluruh dunia.

Alhamdulillahhirobbil’alamin,,, tahun ini, umat Islam di Indonesia sudah dapat mendirikan ibadah puasa Ramadhan mulai tanggal 29 Juni 2014 masehi (menurut penetapan Majelis Ulama Indonesia).

Meskipun begitu, juga ada beberapa umat Islam di Indonesia yang sudah mendirikan ibadah puasa Ramadhan mendahului apa yang ditetapkan oleh pemerintah.

Waulaupun berbeda dalam mendahului pelaksaan ibadah puasa Ramadhan, semoga kita tetap khusuk dalam melaksanakan, dan jangan sampai ada perdebatan yang luar biasa, sehingga menimbulkan perpecahan diantara umat.

Anggaplah perbedaan itu, sebagai wujud keanekaragaman dan luasnya ilmu pengetahuan yang menjadi dasar penetapan ibadah puasa Ramadhan.

Bener tidak? hehe.. big grin

Dalam penentuan awal puasa Ramadhan dan akhir puasa Ramadhan di kalangan umat Islam memang selalu berbeda dan juga bisa sama.

Mengapa bisa begitu?

Sebab, umat Islam dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan tidak hanya memakai satu cara, tetapi sebagian menggunakan metode ru’yah (melihat bulan) dan sebagian lainnya menggunakan metode hisab (hitungan).

Terus mungkin ada pertanyaan seperti ini “Bagaimana sebenarnya cara yang tepat dan sesuai dengan ajaran Nabi?”

Aku pernah membaca di sebuah Kitab Fiqih Jawabul Masa’il Bermadzhab Empat yang kebetulan dimiliki bapakku yang didapatkan dari Yayasan Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan.

Ada jawaban tentang pertanyaan itu seperti ini:

Ada dua cara yang disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama’ untuk menentukan awal dan akhir puasa, yakni:

  • Dengan melihat bulan
  • Dengan menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban.

Sebagaimana keterangan dalam kitab Ghoyatu al-Maqshad Fii Zawaidi al-Musnad bab Ru’yah al Hilal, Sunan al-Daruqutni bab kitabu al-Shiyam, Ithaaf al-Khairah al-Mahrah bab Kitab Zakat, atau kitab-kitab hadist yang lain: (artinya)

Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Isa, Muhammad bin Jabir telah memberitahuku, dari Qais bin Thalqin, dari ayahnya, di berkata: Rasulullah S.A.W bersabda, sesusngguhnya Allah ‘Azza Waa Jalla Menjadikan bulan-bulan sebagai batasan waktu bagi manusia, maka berpuasalah karena melihatnya (hilal), dan berbukalah karena melihatnya juga. Apabila bulan tertutup mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan sya’ban (30 hari). (Ghoyatu al-Maqshad Fii Zawaidi al-Musnad bab Ru’yah al-Hilal)

Dan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin halaman 108 dijelaskan: (artinya)

Bulan Ramadhan sama seperti bulan lainnya disepakati tidak boleh ditetapkan kecuali dengan telah melihat hilal, atau menyempurnakan bilangan menjadi 30 hari. (Bughyah al-Mustarsyidin, hal.108)

Tulisan diatas saya kutip dari kitab yang saya sebutkan tadi. Saya berharap kutipan diatas bisa menjadi bahan belajar dan dapat menambah wawasan kita.

Semoga dengan adanya perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, terutama dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan. Tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mari kita mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.

Insyaallah saya akan sharing lagi beberapa bab yang pernah saya baca di Kitab Fiqih Jawabul Masa’il Bermadzhab Empat.

Yang ingin berpendapat, silahkan berkomentar dibawah ya happy

Selamat berpuasa ^_^

Published in #ndobos

2 Comments

  1. Selamat memasuki bulan suci Ramadhan mas, selamat berpuasa.
    Semoga puasanya lancar2 aja ya happy
    Btw, perbedaan itu akan indah kalo kita saling menghargai segala perbedaan itu happy

    • Selamat berpuasa juga mas big grin
      Amin, amin, amin, Robbal’alamin,, semoga kita mendapatkan berkahnya juga mas happy

      Sip, setuju banget, semoga dengan perbedaan kita akan menjadi semakin beragam dan semakin bersatu thumbs up
      Amin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *