Skip to content →

Puasa Hari ke-4 di Bungmanis #GebyarRamadhan2015

Kemarin sore (20/06) sekitar ba’da Ashar atau jam setengah empat lah lebih mudahnya lak sampean bingung bahasaku. Dengan membawa tas kamera penuh dengan sparepartnya ditambah satu tas lagi penuh gombal, dan ditemani malaikat Rokib dan Atid di pundak kiri dan kananku, serta si biru yang selalu setia menemaniku ketika pergi jauh, tak lupa dompet yang penuh Kartu Nama dan Nota KasBon, aku berangkat ke sebuah dusun yang terletak di tengah bukit kapur Kabupaten Gunungkidul.

Dusun yang secara administratif masuk Desa Pucanganom dan Kecamatan Rongkop ini, merupakan suatu dusun yang menurutku masih asri. Udara yang sejuk dan dingin ketika pagi hari, menambah ciri khas bagi orang kota seperti saya ini big grin

Terletak sejauh perjalanan lancar satu setengah jam dari pusat Kota Yogyakarta, dusun ini dihubungkan dengan jalan kabupaten yang berkelok-kelok bagaikan buntut cecak yang terlepas dari badannya ketika menjadi mainan kucing tetangga, dan melewati tengah tebing kapur serta hutan yang masih terjaga.

Dusun ini menjadi pusat kegiatan KKN (Kemah Kerja Nyata) bukan “Kuliah Kerja Nyata” yang diselenggarakan oleh Racana Sunan Kalijaga dan Racana Nyi Ageng Serang.

**Siapa mereka? Noh, lihat sendiri di uin-suka.ac.id pada halaman UKM atau ke pramukauinjogja.com aja tongue

Kegiatan KKN itu sebenarnya telah diselenggarakan sejak Senin, 15 Juni 2015 **loh tapi kamu kok baru datang tanggal 20 Juni? Maklum lah, orang sok sibuk seperti saya gini kan banyak alasan untuk datang terlambat, malah rencana H-3 aku pengin baru berangkat kesana big grin #eh

Ketika berangkat sore itu, niatan ku selain pengin mengabdikan diri di desa itu #cieh #sokbanget, aku juga pengin berburu takjil di masjid agung Gunungkidul yang terletak di jantung kota Wonosari itu loh.. big grin **dasar PPT

Yah, namun mungkin belum rezeki aku kali ya, sampai tiba di pusat kota itu masih jam 17.00 kurang beberapa menit. Aku muterrrr… aja di alun-alun sambil lihat keadaan masjid, kok masih sepi ya, tak ulangi sampai beberapa kali untuk memastikan karena sangking kepinginnya takjil Gunungkidul. Setelah merasa malu sendiri karena dilihat orang disekitar situ yang melihat aku seperti orang bingung, akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Bungmanis.

Dari pusat kota Wonosari ke Dusun Bungmanis tak memakan waktu lama jika tidak ada halangan di tengah jalan. Menurut perhitunganku kemarin, hanya memakan waktu setengah jam untuk bisa berpindah menghirup udara dari udara Wonosari ke udara Bungmanis.

Sampai di Bungmanis, tepatnya di rumah bapak Dukuh, pas maghrib atau menjelang maghrib, soalnya saat aku duduk-duduk sebentar sambil merapikan barang bawaan, tak lama itu ada suara kumandang adzan Maghrib terdengar.

Ok, saatnya buka. Gak ikut masak, Gak ikut apa-apa, Tapi Ikut Makan, Haduh,, haduh,, tapi perlu disyukuri masih ada rezeki yang bisa dimakan untuk berbuka saat itu big grin #gayamuki

Malam harinya merupakan malam pertama saya terawih di dusun itu, suasananya cukup ramai, bahkan sesak. Sebab, para warga dan anggota Racana sampai sholat diluar bangunan utama masjid dusun. Namun meskipun begitu tak menghilangkan kekhusukan untuk beribadah kepada Sang Kholiq winking

Ceramah sholat teraweh ketika itu diisi oleh Kak Depa panggilan sayang anggota Racana dan warga desa kepada beliau. Mantan Ketua Dewan Racana itu menyampaikan ceramah mengenai surah Al Luqman ayat berapa aku lupa, yang intinya mengenai pentingnya peran orang tua yang gak boleh kita lupakan. Orang tua yang selalu menyanyangi, mendidik dan merawat penuh cinta kasih, terkadang masih sering kita lupakan begitu saja. Kita pun sering tak segan menolak perintah orang tua dengan berbagai alasan sepele yang sejatinya hanya menunjukkan kemalasan kita saja.

Beliau bercerita, bahwa kita baru terasa pedih ketika berjauhan dengan orang tua kita. Seperti kondisi beliau dan kondisi penulis saat ini, tinggal di kota orang, dan jarang pulang membuat kita baru sadar, begitu pentingnya peran orang tua di dalam hidup seorang anak yang sedang mendewasakan diri ini.

Orang tua begitu diingat ketika berjauhan seperti ini, dan kita baru sadar, masih sangat sedikit bahkan kita belum mencapai nol koma se per berapa persen kita berbakti kepada orang tua jika itu dapat diukur dengan angka.

Malam harinya dilanjutkan dengan tadarus oleh teman-teman dan warga dusun, serta jagongan ditemani kacang rebus yang baru diangkat dari pawon bersama teh panas yang menemani kita hingga larut tengah malam.

Tidak terasa waktu sahur sudah datang, masuk hari ke-4 bulan Ramadhan di sambut dengan hawa dingin yang begitu menusuk hingga dalam-dalam, termasuk menusuk dalamnya celana yang ada di dalamnya celana dalam itu, alias kedua paha yang terasa sangat dingin, membuat mata malas untuk dibuka, serta seluruh tubuh ini bagaikan seonggok daging yang pucat pasi karena kedinginan dan malas tuk dibangunkan. #sungguh #lebay

Yak, karena saya butuh tambahan nutrisi, taukan kalian kalau saya ini tinggi kurus langsing semampai, kalau kena angin bisa lari kemana-mana dengan mudahnya. Akhirnya kuputuskan membuka mata dan bergegas menuju dapur umum untuk mengambil sepiring nasi dengan lauknya.

Lanjut sholat Shubuh, dan mendengarkan kultum bersama rekan racana beserta seluruh warga dusun di masjid. Kultum Shubuh kali iniyang menyampaikan Kak Yudha, beliau membawakan kultum dengan topik Kategori rezeki.

Pantun menjadi awal pembuka kultum ketika itu, dan tentu dilanjutkan dengan sepenggal ayat suci Al – Quran dan tak lupa ucapan salam. Beliau membawakan kultum dengan santai dan serius, seperti kebiasaan beliau ketika berbincang dengan rekan-rekannya. Dibumbui canda tawa namun tak melenceng dari topik pembicaraan.

Pengajian Shubuh Masjid Bungmanis
Pengajian Shubuh Masjid Bungmanis 4 Ramadhan 1436H

Beliau menjelaskan ada empat kategori rezeki itu, kategori pertama merupakan rezeki untuk semua makhluk baik manusia, binatang, aneka tumbuhan dan semua makhluk Tuhan itu berhak mendapatkan rezeki yang adil.

Kategori selanjutnya, rezeki untuk orang yang selalu berusaha, pada umumnya rezeki ini akan diberikan ketika orang itu ulet dalam bekerja mencari berbagai kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang halal. Rezeki tingkatan selanjutnya, yaitu rezeki untuk orang yang selalu bersyukur, atau dalam hidupnya selalu merasa cukup akan segala apa yang diberikan Tuhan.

Dan kategori Rezeki yang terakhir, diperuntukkan kepada orang-orang yang selalu bertaqwa. Orang yang selalu menjalankan perintah Tuhan, tanpa sedikit pun dalam perbuatan dan hatinya mendustakan Tuhan. Kategori inilah merupakan yang tertinggi derajatnya daripada kategori lainnya.

Agenda kultum tersebut, disudahi saat jam dinding telah menunjukkan pukul 05:00 WIB. Seusai kultum suasana masjid bertambah lengang, masih menyisakan orang-orang yang akan meneruskan tadarus Al-Quran pada hari sebelumnya.

Sebelum suara tadarus berakhir di masjid dusun, para warga dan beberapa rekan dari racana sudah bersiap melakukan olahraga pagi. Serangkain olahraga pagi diawali dengan senam Pramuka, disambung dengan senam-senam kreatif dan diakhiri dengan permainan bola voli.

Berlanjut kegiatan sore harinya, ada kegiatan lomba masak jajanan sehat untuk keluarga bagi para ibu-ibu PKK di dusun tersebut. Sejak pagi hari, ketika saya nongkrong di teras rumah warga untuk menyari sinyal demi posting informasi di twitter @pramukauinjogja, ibu-ibu per RT sudah antusias gotong royong bahu membahu memasak jajanan sehat untuk diajukan kepada dewan juri.

Kegiatan itu diikuti oleh empat RT yang berada di dusun tersebut. Setiap RTnya diwajibkan untuk mengirimkan hasil buah karya para ibu-ibunya dalam memanfaatkan sumber daya yang berada di kampung tersebut dalam bentuk jajanan sehat.

Salah satu yang dimanfaatkan yaitu dari bahan ketela, yang diolah terlebih dahulu menjadi Mokav, selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan aneka kue dan olahan lainnya.

 

Published in #ndobos

3 Comments

  1. lha poto pean sing nyang mimbar endi?

  2. Tahta Laksana Tahta Laksana

    wah, Pramuka UINSUKA wes nduwe website. #terbaiktenan, dadi anak perantauan rasane kangen ae mbek wong tuwo yo ki. sad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *